Sejarah Tungkop



Tungkob berasal dari kata TANGKAB dalam hal ini diartikan pemberian perlindungan dan pengamanan secara tuntas dan cepat kepada orang-orang yang menghadapi ancaman keselamatan jiwa atau kesulitan-kesulitan lainnya yang memerlukan perlindungan dan pengamanan. Pemberian perlindungan dan pengamanan ini tidak saja dikhususkan bagi masyarakat sendiri , akan tetapi juga diberikan kepada orang-orang yang berasal dari kalangan luar sehingga ketentraman dan keselamatan bagi orang-orang yang terancam serta mendapat kesulitan akan benar-benar terjamin jika sudah berada di Tungkob.

  Orang-orang yang dimaksud disini {yang diberikan perlindungan dan pengamanan} adalah mereka-mereka yang mendapat tekanan / ancaman dalam menyiarkan Agama Allah atau mereka-mereka yang terancam jiwanya dalam mempertahankan Negaranya dari belenggu penjajahan.

  Menurut riwayat dari orang-orang terdahulu bahwa ancaman dan kesulitan dihadapi orang-orang akan merasa pulih jika telah mendapat perlindungan dalam kawasan Tungkob dan tiada suatu kekuatanpun yang sanggup melawannya.

  Pada abad ke XV masa pemerintahan Sultan Alauddin Syah daerah Tungkob ini diberi gelar Nanggro 26 atau 9 mukim yang pemerintahannya dipusatkan di Tungkob dibawah pimpinan seorang ulama yang menyebarkan Agama Islam ke Aceh yang berasal dari tanah Arab. Beliau datang ke Aceh bersama-sama dengan syech Nuruddin Arraniry dengan gelar Tgk. Hamba Allah yang sempat berkuasa lebih kurang 50 tahun. Selama kepemimpinan beliau daerah Tungkob terkenal dengan sebutan 3 segi Aceh, sehingga daerah Tungkob ditetapkan sebagai pusat Musyawarah para Ulee Balang dan Ulama dalam 3 segi Aceh. Keputusan yang telah dimufakatkan disini diterima dengan baik oleh seluruh lapisan Masyarakat dan tidak dapat diganggu gugat. Dalam menghadapi serangan non Islam Tgk.Hamba Allah mendirikan sebuah benteng yang berada ditengah-tengah kota sebagai pertahanan bagi umat Islam.

  Pada masa tersebut benteng ini dianggap yang terkuat dan termasyhur didaerah Tungkob dengan diberi nama “BENTENG KUTA BATEE”. Sebagai bukti sejarah atas keberhasilan Tgk. Hamba Allah sampai saat ini masih kita jumpai beberapa peninggalan seperti tempat pemandian kuda,yang saat ini dijadikan TPA Raudhatul Quran, Sumur Berputar atau dengan bahasa Aceh disebut “Mon Meuputa”,dan tapak bekas Asrama yang sekarang menjadi Pesantren Raudhatul Quran.




Tungkop

Alamat
Jln. Masjid No. 2 Gampong Tungkob Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar
Phone
085262525542
Email
[email protected]
Website
darussalamtungkop.sigapaceh.id

Kontak Kami

Silahkan Kirim Tanggapan Anda Mengenai Website ini atau Sistem Kami Saat Ini.

Total Pengunjung

24.144